Selamat Datang di Negri Fir’aun, Tuan-Tuan!

December 19th, 2005 by camkueh

Read Here


Sebuah bangungan menterang, Istana para pembesar kerajaan yang penuh
dengan perabotan dan hiasan-hiasan, dilapisi permadani tebal. Di ujung
permadani terletak sebuah kursi besar tempat Jahoti duduk dengan gagah,
dikelilingi dayang-dayang. Di belakangnya salah seorang dayang duduk
sambil menggerak-gerakkan kipas besar, sedangkan di depannya Auni
berdiri penuh hormat. Para pelayan lalu-lalang mengantarkan jamuan. Di
sebelah depan berderet kursi saling berhadapan di sisi permadani. Para
punggawa dan pembesar kerajaan duduk dengan sopan. Beberapa orang masih
tampak berdiri menunggu titah raja. "Duduk!" perintah Jahoti.
Perlahan-lahan Auni beringsut lalu duduk di kursi paling depan. Para
pembesar dengan hati-hati melangkah mundur dan kemudian duduk di kursi
yang sudah disediakan.

"Hari ini kita akan membicarakan tentang petani itu," titah raja.
"Siapa Aknom ini hingga berani menentangku, sedang Aku adalah raja
negri ini, tangan kanan Fir’aun yang agung."
Dia terdiam sesaat sambil memandang wajah para pembesar satu persatu
dengan senyumannya yang garang. Kemudian dia kembali melanjutkan, "Aku
tidak kuatir dengan kejadian ini. Namun aku takut akan sering terulang.
Aku tidak pernah mendengar sepanjang hidupku manusia hina dina
mengangkat wajahnya di depan tuan-tuannya. Tidak di Ahnasia, dan tidak
pernah juga di wilayah lain. Apakah ini suatu tanda atau peringatan?
Aku tidak tahu, tapi lebih hati-hati jika kita segera mengambil
langkah-langkah."

"Tuanku,
dia hanya seekor kecoak. Seorang hamba dari ribuan hamba-hambamu. Tidak
usah kamu pikirkan. Biarkan dia berteriak-teriak di dalam gua yang
gelap gulita dan meraung-raung seperti manusia diserang demam. Besok
dia juga akan putus asa, lalu terjatuh kelelahan atau tidur pulas.
Orang-orang kemudian akan melupakannya," sahut Auni angkat bicara.

Beberapa
orang pembesar wilayah yang jauh telah tiba. Mereka datang dari negri
seberang, karena titah raja untuk segera menghadiri pertemuan.
Pertemuan penting yang tidak bisa ditunda-tunda. Jumlah yang terlambat
ini sekitar 15 orang. Mereka menyampaikan alasan kepada Jahoti tentang
keterlambatan mereka; karena rakyat di wilayahnya menghalang-halangi
sehingga mereka harus berangkat dengan sembunyi-sembunyi. Mereka
ketakutan Fir’aun akan murka, karena ini adalah titah raja. Lebih baik
segera menghadiri pertemuan daripada mendengar pengaduan tentang
hama-hama dan kelaparan. Penyakit, kelaparan, dan hama-hama bisa segera
diatasi, tapi murka Fir’aun siapa yang bisa melawan. Jahoti tersenyum
bangga.

"Selamat datang di istana Jahoti, tuan-tuan!" sambut Auni.
Dia menepuk tangannya dan tidak lama kemudian para pelayan datang mengantarkan gelas-gelas minuman.
"Saya tidak menyangka, bagaimana mungkin Tuanku tidak bisa menghalau
kecoak-kecoak itu? Hanya satu orang petani, mencuri ketenangan harimu
dan bersemayam dalam pikiranmu saat tidur dan bangun. Apa yang akan
Tuanku lakukan, seandainya mereka sepuluh orang?" kata Tata mulai
angkat bicara.

"Tuanku
justru telah mengambil kebijakan yang bagus. Dia mengundang kita untuk
membicarakan bersama. Musyawarah adalah kemestian, jika kita ingin
mendapatkan strategi jitu. Karena, pendapat satu orang tidak lepas dari
kelemahan," sahut Yaya.

Jahoti tersenyum lalu berkata,
"Orang-orang mengatakan, Jahoti adalah manusia adil dan bijaksana. Dia
tidak menjadikan pangkat dan jabatan sebagai alat kezhaliman. Justru
dengan pertemuan Dewan, dia mengeluarkan kebijakan untuk wilayah,
hingga wilayah yang jauh di sana."

"Oh kalau ini sudah maklum.
Bahkan pembesar-pembesar negri jauh pun tidak akan berani menolak
datang. Demi pertemuan penting mencapai kemaslahatan. Dengan harapan
Tuanku dan para pembesar bisa mendapatkan keputusan menghadapi banyak
tuntutan dan penentangan," sahut Yaya.

Auti masuk dengan tergesa-gesa. Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru terlepas dari kejaran anjing.
"Tuanku dan tuan-tuan sekalian. Maafkan keterlambatan saya. Di tengah
perjalanan saya menjumpai peristiwa yang sangat mengejutkan.
Anjing-anjing menyalak dengan ganas dan menakutkan seakan-akan kita
adalah orang-orang bodoh yang melarikan diri dari tanggung jawab.
Bukankah kita adalah manusia-manusia pilihan? Dilantik oleh Fir’aun
sebagai pembesar untuk mewakili rakyat di wilayah kita masing-masing.
Bukankah kita ini orang-orang yang pintar dan sangat berpengalaman?
Kenapa justru membuat kita terkejut dan takut apa yang sekarang sedang
ramai di kalangan rakyat banyak hingga keruh malam-malam kita dan
seperti tidur di atas bara?"

"Aku
ini, anakku, orang tua yang sudah melewati tahun-tahunnya. Aku
persembahkan hidupku hingga akar pohon-pohon menancap kokoh. Dan aku
sandarkan pucuk yang lembut hingga tidak terbang ditiup angin. Atau
bagaimana dahan-dahan itu tidak bergoyang, atau ada tangan yang
mengguncang. Aku takuti burung-burung dari buah yang sudah matang, dan
aku tidak pernah kikir dengan pengorbanan. Berapa banyak penderitaan
yang aku hadapi dan aku sudah lelah. Berapa banyak penghargaan yang aku
dapatkan. Kami dari putra-putra generasi pertama, orang-orang yang
telah membangun singgasana kerajaan. Kami wariskan kepada kalian
kebesaran ini, dengan keringat dan susah payah. Kami persembahkan
dengan pengorbanan yang pahit, istana-istana yang berjejer di
lembah-lembah. Sumber kehidupan dari kemurahan silsilah tuhan, para
Fir’aun. Kekuasaan istana membentang lebar dan panjang ke semua penjuru
bumi. Istana yang mempunyai kekuatan lahir dan batin, menurunkan atau
meninggikan, dan memberi atau menghalangi. Istana yang penuh dengan
kuasa, bahkan penentu takdir-takdir. Maka bagaimana mungkin aku tidak
terkejut, atau cemas, atau dirundung kesedihan," tukas Yaya dengan
suara lirih menjelaskan panjang lebar.

"Aku sendiri, tidak ada
yang mengubahku. Hatiku masih bergelora dengan keagungan. Dua tanganku
masih kokoh. Dan jiwaku penuh kelembutan," sahut Tata sambil tertawa.
"Memang siapa di antara kita yang gemetar sendi-sendi tulangnya, Tata?
Apakah singgasana ini dibangun oleh pengecut?" tanya Jahoti garang.
"Tidak.. tidak. Kalian lebih perkasa dari batu karang. Semua harap tenang," sergah Yaya
"Akan tetapi aku harus tetap membuka mata seperti ular. Mengukur setiap
langkahku di atas tali terbentang. Tidak mungkin aku berdiam di bawah
naungan pohon rindang dan santai telentang. Dan menyerah pada hembusan
angin sungai. Punggungku harus tetap bersandar di dinding. Selalu siaga
agar tidak menyesal kemudian hari. Atau kekuatan lain meruntuhkanku.
Atau apakah demam tidak menular? Dan semua berlalu sampai wabah baru
mengancam," sahut Jahoti dengan tegas.

"Baiklah,
sekarang mari kita kemukakan pikiran-pikiran. Dan kita pilih solusi
yang baik," kata Tata. Auni, Tangan Kanan Jahoti, permisi angkat bicara
dengan penuh sopan.
"Ribuan pemuda sudah berhimpun untuk menentang kita. Mereka telah menyalakan API
pembangkangan di setiap sendi tulang. Sehingga membakar dada
orang-orang, lalu mengeluarkan kilat-kilat menakutkan seperti desiran
angin setan."

"Pikiranku kuno sudah membatu. Masaku telah
berlalu hingga gagasan-gagasannya telah hancur. Namun aku hanya ingin
menyampaikan sesuatu sebagai bahan pertimbangan. Pemuda sekarang tidak
lagi seperti kemarin. Mereka telah menyadari banyak hal dan membuang
jauh wasiat-wasiat lama. Mereka berbaring tenang, tetapi menyimpan
penentangan dan permusuhan. Mereka mengatakan, generasi demi generasi
telah menipu kita dengan omong kosong. Mengultuskan semua yang pernah
dikatakan masa lalu adalah kejahilan yang membudaya dan kebodohan. Dan
itulah sumber petaka. Mereka membuat sistem-sistem baru, mencari jalan
keluar. Mereka menggali kebenaran dan jawaban. Apakah seperti ini yang
mereka klaim. Dan hari ini, kalian pembesar yang juga masih muda, hadir
di sini. Barangkali banyak pikiran baru. Pemikiran modern.. pada masa
yang selalu mengubah kulitnya setiap hari. Dengan kalian kita bisa
memberangus setiap pikiran yang menentang dan menghancurkan, dengan
lembut jika lebih berguna, dengan pembiusan, atau kalau perlu dengan
kekerasan," ujar Yaya.

"Kami tidak mengesampingkan pikiran
yang cerah ini, atau strategi bagaimana menghadapi. Bahkan kami pada
akhirnya adalah para pembesar pilihan yang disegani. Orang-orang
mengenal kita dengan dua wajahnya yang lembut dan beku. Kita mengenakan
seribu topeng dalam satu hari. Bagi kita apa yang kita inginkan, bukan
yang diinginkan oleh orang-orang mabuk yang banyak ribut itu. Kita
telah menghadapi semua itu berkali-kali dan bahkan setiap hari. Hingga
kita menjadi berpengalaman dan para ahli," sahut Tata.

"Kalian
memang orang-orang pilihan di antara masyarakat ini. Dengan kalian,
semakin rindang pohon-pohon kekuasaan. Sawah-sawah menjadi subur dengan
gelimangan air, hingga penuh perbendaharaan desa dengan sumbangan dan
pemberian kalian. Sedang para penentang itu hanyalah kecoak yang iri
dengki atau kelalawar malam yang mengganggu tidur," puji Auni.
Tata menatap Auni dengan penuh kebanggaan dan senang. "Betapa kalian
orang-orang yang penuh ide dan gagasan, buah dari pikiran malam."

Jahoti
memandangnya dengan jengkel. "Kenapa kamu belum juga mengajukan usulan
sejak tadi? Apakah kamu sengaja atau kamu menganggap kecil persoalan,
Hai Penyelamat."

"Oh tidak karena apa-apa. Aku memang
laki-laki penyelamat. Selalu datang pada saat-saat genting. Aku
disegani di banyak wilayah dan dikenal sebagai pangeran tipu daya,
mampu menghadapi masalah dengan penuh siasat. Aku berburu dengan
senyuman, dan siulan berirama."
"Tata, segera masuk ke topik persoalan. Kemukakan gagasanmu," desak Yaya.

Setelah
berpikir sejenak, Tata angkat bicara, "Gampang! Kita tenggelamkan
mereka dengan isu-isu dan berita-berita. Ini sering menggoda
orang-orang. Kita menyerah kepada telinga terbuka siang dan malam.
Kalau perlu, undang mereka makan malam di istana. Kemudian kita
tanamkan kepada mereka apa yang kita inginkan; segala godaan, berita
hangat, seribu alasan. Perlihatkan kepada mereka
keberhasilan-keberhasilan kita atau perbaikan-perbaikan. Cukup kita
tipu mereka dengan sedikit menyusupi berita-berita. Angkat orang-orang
pintar menjadi teman sehingga mereka dipercaya mengemukakan analisa dan
penelitian. Kita bisa pergunakan pendukung-pendukung kita yang tersebar
di pasar-pasar dan setiap tapak jalan. Tidak usah takut dengan suara
mereka, tapi tampakan bahwa kita mengagungkan kritik. Dan kita bisa
masukkan sedikit alasan dan beberapa penjelasan."
"Begitu juga yang sebenarnya sedang aku pikirkan," sahut Jahoti.

Suara teriakan lirih terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin
mendekat. Mereka terdiam dan memasang telinga masing-masing ke arah
suara. Semakin dekat dan jelas. Aknom sendirian berteriak-teriak dari
depan istana.
"Kokohkan hatimu di kedua tanganmu. Tegakkan keadilan di sekitarmu.
Untuk hari ketujuh aku angkat suaraku. Lalu kenapa kebenaran tidak juga
sampai ke telingamu. Kenapa? Tuanku, apakah kamu menutup telingamu?"

Darah
Jahoti berdesir. Keningnya berkerut dan wajahnya berubah merah. "Nah
kalian dengar. Dia kembali lagi. Tidak pernah tenang siang dan malam
hingga membuatku hampir gila."
"Apakah kamu merasa menjadi gila?! Kalau begitu tidak usah kamu
dengarkan suara kecoak sawah hina ini," kata Yaya dengan suara geram.

"Bagaimanapun,
aku akan terus menuntutmu. Aku menanti keadilan, yang berpihak kepada
orang lemah. Aku tidak akan pernah menutup mulut, sampai kamu kembali
ke jalan kebenaran dan keadilan tuhan yang lama. Tuanku bukanlah
pembesar dan manusia agung itu, jika tidak menolong orang lemah, jika
tidak menjaga harta anak yatim. Jika kamu mencuri roti dari tanganku,
maka kamu benar-benar manusia zhalim."

Tata berdiri dan menghadap kepada Jahoti.
"Jangan bersedih, Tuanku. Aku akan melepaskanmu dari kekacauan ini.
Tidak usah kuatir, aku selalu punya obat untuk semua penyakit."

"Tunggu!
Auni, bawa dia masuk ke dalam. Biar para pembesar tahu siapa kecoak ini
dan mereka bisa bersiap-siap membuat antisipasi, jika kecoak-kecoak
sama bermunculan di wilayah mereka."
"Baik, Tuanku."

Auni
memerintahkan kepada dua orang punggawa untuk membawa Aknom masuk
menghadap raja. Tidak lama kemudian mereka masuk sambil menyeret Aknom
yang dipaksa berjalan mengisut di lantai dengan badan membungkuk
menyapu permadani. Jahoti duduk dengan gagah didampingi pembantu
pribadinya, Auni. Para pembesar menatap dengan sinis kepada Aknom dan
tidak sedikit yang mencercanya dengan hinaan dan makian.

"Inilah dia kecoak yang sombong. Berpakaian lusuh yang menutupi tubuh kotornya," seru Jahoti.

"Maaf,
Tuanku. Akan tetapi kamu yang meminta maka aku penuhi. Aku hanyalah
seorang petani dan tahu sendiri kadar diriku. Aku tidak sudi disebut
kecoak apalagi sombong sedang aku hanya menuntut hak sebagai rakyat."

"Tidak sudi?!" bentak Jahoti.
"Perkataan macam apa ini keluar dari mulutmu yang bengkok! Apakah kamu
tahu sedang berhadapan dengan siapa?" bentak Auni tidak kalah garangnya
sambil mencengkram tangannya dan geram ingin memukulnya.

"Aku
tahu, atau aku tidak tahu sama. Yang penting aku berpegang pada
kejujuran dan tidak mengikuti setan. Apakah ini harus berbeda pada dua
kondisi?!"

"Turunkan suaramu, Kurang Ajar!? Atau aku cambuk
hingga remuk mulutmu atau kamu meminta ampun. Tidak sudi?! Apakah
sahaya yang hina pantas menentang Tuannya yang tidak pernah salah?"
bentak Auni sambil mengajukan penghormatan kepada Jahoti yang agung.
Jahoti tersenyum puas.

"Maaf, Tuanku. Aku hanya mengulangi
perkataanku di telinga pembesar-pembesar yang mulia. Mohon dengarkanlah
aku. Kesekian kalinya aku sampaikan, aku tidak pernah mengambil yang
bukan milikku. Benar aku orang miskin. Hanya memiliki sebidang sawah
yang menghidupiku dari hatinya yang besar. Aku menginjak-injaknya lalu
ia mematangkan sayuran dan padi-padi. Aku warisi dari orangtuaku. Aku
berangkat ke pasar kota. Di bibir bersiul nyanyian, bersama pikiran
memendam harapan. Dan sebidang tanah itu dirampas paksa untuk membangun
istana raja-raja. Lalu aku dituduh mencuri dan menghina punggawa hingga
dijebloskan ke penjara."

"Jangan menipu kami, kurang ajar.
Kami sudah bosan mendengar cerita bohong yang diulang-ulang ini. Tidak
ada jalan selain menerima keputusan. Sawahmu dulu sudah dijual sita.
Kami tidak pernah memenjarakanmu. Kami hanya menangkap pencuri dengan
dosa besarnya. Kamu sudah merdeka, tapi maaf sawahmu tidak mungkin
kembali sebagai tebusan dosa."

"Aku merdeka sedang sawahku terpenjara?!" seru Aknom berteriak pedih

"Benar,
tidakkah kamu lihat sendiri maling mencuri. Tidakkah kamu mengakui.
Benar kata orang-orang, tidak ada pencuri yang mau mengakui, meski
perutnya penuh dengan harta orang lain atau harta negara. Sawahmu telah
menjadi milik negara dan akan dibangun istana," jelas Auni.

"Tuanku,
rupanya tidak mencuri kecuali orang yang tahu bagaimana bersiasat.
Tidak ada yang makan harta manusia kecuali manusia. Tidak ada yang
mengharapkan kehormatan dunia dengan kepalsuan dan tipu daya, Tuanku,
kecuali manusia. Tidak ada yang rakus pada orang-orang kecil kecuali
manusia. Manusia berpunggung tak rata telah menjadi bajingan atau
durjana. Disibukkan dunia dan berlindung di balik kalimat Tuhan sedang
cakarnya mencengkram milik rakyat."

Semua pembesar tercengang
dan saling tatap satu sama lain. Auni berbisik kepada Jahoti, "Dia
sudah mulai merangkai kata menjadi jalinan bara yang menghidupkan API. Sebaiknya kita bertindak segera agar dia takut dan jantungnya berdebar."

"Hai
Petani, apakah kamu mencerca para wakil tuhan. Apakah kamu sudah berani
mematahkan tongkat kepatuhan lalu mengajarkan kepada kami bagaimana
mengatur persoalan. Enyah dari depanku dan segera menyingkir dari
sautan cambuk ini. Semua sudah diputuskan, dan sekarang kembalilah. Dan
jangan lupa kamu hanya kecoak tak berguna."

"Tuanku, maaf.
Pakaianku memang tidak bisa menyuarakan kelembutan hatimu. Namun
sawahku adalah bagian hidupku yang tersisa bersama bangunan rumah
beratap rumbia. Kami makan di sana bersama, dan kami lapar saat
anak-anak lapar di sana."

"Enyah! Tidak usah kamu ajari kami.
Atau sebaiknya kamu bawa sesajen dan mohon kepada dukun untuk mengatasi
masalahmu. Lukis semua penampakan dan sebarkan kepada khalayak bersama
kantong-kantong sumbangan."

"Apakah kita telah melangkah
kembali ke belakang dan hidup dalam era kegelapan? Apakah kamu lihat
aku hari ini bersimpuh di depan pembesar dari para penghuni
pyramid-pyramid yang agung."
"Usir dia, aku sudah bosan mendengar ocehannya. Biarkan dia
berteriak-teriak di luar sana sampai letih sendiri, atau tertidur di
samping tembok istana."

Auni
segera memerintahkan kepada para punggawa untuk menyeretnya keluar.
Aknom melawan dengan keras. Dia meronta untuk melepaskan diri. Para
punggawa menjatuhkannya dan mendorong tubuhnya yang tergeletak di
lantai permadani. Dia melawan. Auni menuruni tangga singgasana dan ikut
serta menendang tubuhnya dengan keras memaksanya keluar. Aknom mengaduh
kesakitan, tapi terus bertahan. Selama kebenaran masih tersiksa, ia
tetap bersabar dengan kesabaran warisan leluhur.

"Kalian telah
berjalan dengan kekuasaan yang semena-mena, bersama luka-luka cambuk
yang tidak pernah bosan, dan kekerasan penguasa zhalim yang tak pernah
henti. Cahaya wajahmu yang penuh dengan senyuman, Tuanku, menyingkap
sendiri wajah-wajah pencuri dan bajingan di istana. Dan bisa membuka
kedok para penjahat."

"Tutup mulutmu!" bentak Auni. Jahoti
berang dan semakin emosi. "Bawa dia ke tempat penyiksaan!" perintahnya
dengan teriakan garang.

"Silahkan, bawa aku. Siksa aku. Aku
sudah tidak perduli kegelapan penjara dan cambuk siksaan. Sawahku sudah
hilang dan hidup dalam cengkraman manusia durjana. Ya, lebih baik
kalian siksa aku. Gelap malam tidak akan pernah mencekikku, dan angin
malam tidak akan pernah menerpaku. Apa yang ada dalam otaku, rela
mendekam dan berdiri sendiri di depan kegelapan. Karena di atasku masih
ada bintang-bintang, yang menyinari lembah-lembah. Dan akan berteriak
setiap hari, manusia-manusia baru yang menuntut keadilan dan kebenaran.
Semakin hari akan semakin bertambah, Tuanku dan para pembesar sekalian.
Harapan yang jauh menjadi dekat. Silahkan siksa aku sepuas kalian.
Percayalah, harapan yang jauh akan semakin dekat."

Para
punggawa yang lain berdatangan dan mereka membantu tekan-rekannya
membawa Aknom ke penjara istana, tempatnya menanti siksaan. Suasana
sepi mencekam beberapa saat mengiringi gelengan kepala para pembesar
yang terkejut bukan kepalang melihat keberanian petani lusuh menentang
penguasa. Sampai keheningan itu dipecahkan suara Auni yang kembali
angkat bicara memberikan penjelasan kepada para pembesar yang masih
duduk tenang bersama jamuan.

"Begitulah tuan-tuan sekalian.
Tidak ada cara lain untuk mendiamkan orang-orang pembangkang seperti
itu. Semakin mendapatkan keleluasaan, mereka semakin berani. Seandainya
bukan karena Tuanku, Jahoti, yang ingin menunjukkan kepada kalian
semua, tentu saja tidak sampai terjadi seperti ini di depan tuan-tuan
semua."

Satu persatu para pembesar memberikan pujian kepada Jahoti dan mereka sangat mendukung langkah kebijakannya.
"Langkah Tuanku sangat bijak. Setelah diperintahkan keluar, dia masih
saja melawan. Tidak ada cara lain selain penjara dan siksa. Orang
sepertinya memang tidak berguna," kata salah seorang dari mereka.

Jahoti
menatap wajah pembesar satu persatu dengan penuh bangga mendengar
pujian mereka. Sampai pandangannya terjatuh ke kursi-kursi paling
ujung. Raut mukanya berubah dan tidak mampu menyimpan kekagetan di
balik kebangaan. Beberapa pembesar tampak asing di matanya. Pembesar
iklim dari mana? Jangan-jangan mereka mata-mata, dari orang-orang
kampung yang kelaparan lalu diminta rakyat wilayahnya untuk menyusup ke
dalam istana. Orang-orang yang ditatapnya menundukkan wajah. Yaya
memperhatikan tatapan raja, lalu segera berdiri di tempat dan meminta
kesempatan bicara.

"Tuanku, mereka adalah teman-teman saya.
Datang dari negri jauh untuk belajar bagaimana cara kita menyiasati
rakyat. Mereka ingin tahu, bagaimana kita bermusyawarah untuk
menghadapi para petani yang membangkang dan orang-orang yang kelaparan.
Mereka masih muda dan penuh harapan untuk menjadi pemimpin masa depan.
Awalnya datang tak terduga lewat lorong lintas waktu di dapur pribadi
milik hamba, Tuanku."

"Oh begitukah?! Selamat datang
tuan-tuan di negri Ahnasia. Apakah di negri kalian juga ada
kecoak-kecoak pembangkang seperti itu?"

"Ada juga, Tuanku.
Karena itulah kami kemari untuk belajar banyak bagaimana cara
mengatasinya. Di Blora, wilayah saya pernah ada yang sampai diasingkan
dari negri, karena menentang kami, para penguasa, dengan keras. Namun
pada masa-masa sekarang kami sudah tidak bisa melakukan cara seperti
itu lagi. Usulan yang dikemukakan oleh pembesar Tata sangat masuk akal
dan jitu. Kami juga pelan-pelan sudah menggunakan cara seperti itu. Dan
hasilnya sudah lumayan kelihatan. Bahkan keinginan kami ke sini pun
mendapat penentangan dari rakyat. Kami berangkat diam-diam dan
berpura-pura menampakkan di depan mereka bahwa kami perduli dengan
tuntutan mereka. Lalu kita beri alasan-alasan yang masuk akal, dan kita
susupi berita-berita dengan komentar-komentar yang menyejukkan," kata
salah seorang dari mereka yang kemudian mendapat anggukan kepala dari
teman-temannya yang lain.

"Bagus-bagus. Pertemuan ini cukup
sampai di sini. Kepada para pembesar wilayah sekalian, saya berharap
agar berhati-hati dan segera lancarkan siasat kita dengan
sebaik-baiknya, agar wilayah kekuasaan kita jangan sampai terjadi
keributan dan penentangan. Kepada tuan-tuan dari negri jauh, saya
sampaikan selamat datang ke negri Fir’aun, Negri yang agung ini. Auni,
tolong layani tamu-tamu kita ini. Dan jangan lupa ajak mereka mandi di
Hamam Fir’aun semoga mereka mendapatkan berkahnya dalam memimpin di
wilayah mereka masing-masing."

Para pembesar dan tamu-tamu
agung itu kemudian membubarkan diri setelah memberikan penghormatan
kepada Jahoti. Kemudian mereka kembali ke tempat-tempat yang telah
disiapkan.

Read Link

Menemukan Kertas-Kertas lama: Catatan Perjalanan [1]

September 22nd, 2005 by camkueh

Tengah hari ini sangat panas. Terik sinar matahari betul-betul terasa
menyengat. Aku terjebak dalam dalam Tram Listrik yang penuh sesak.
Badanku tersisih ke pojok, dan sedikit lagi terjatuh seandainya tidak
ada tiang. Namun aku tetap bertahan mengiringi goyangan Tram yang
seperti begitu malas bergerak. Bajuku basah penuh keringat.
Kerongkonganku terasa kering. Aku haus. Di depanku duduk seorang
perempuan setengah baya. Di sampingnya lagi seorang wanita sambil
menggendong anak kecil. Aku taksir umurnya tidak lebih dari dua tahun.
Hanya tiga sosok itu yang jelas dalam penglihatanku. Semua orang
terdiam dalam suasana dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Kecuali panas yang sesekali membuat sebagian mengeluh.

Tepat di persimpangan jalan, tiba-tiba Metro terhenti. Semua
terperanjat dari lamunannya. Entah berapa kepala yang berpaling kiri
kanan seperti sedang mencari tahu ada apa gerangan. Aku tetap duduk di
tempat. Ujung kursi terasa sayang untuk dikorbankan walau cukup untuk
sebelah pantat. Perjalanan masih jauh. “Sialan! Listrik lagi-lagi
mati,” keluhku. Aku menjadi gelisah. Waktuku berangkat sudah terlambat
dari jadwal yang telah disepakati. Kadang kondisi seperti ini membuatku
berpikir gila. Apa gunanya aku berangkat menahan terik dengan tubuh
bermandi keringat. Andai aku bisa menentukan kenyataan, semestinya
tidak harus seperti ini. Paling tidak, aku bisa meraba kapan aku harus
mengikat janji. Ah nasib manusia tak punya duit. Punya mobil pribadi
tidak bisa. Mau naik taksi, kemahalan. Kenyataannya, nasib sudah sejak
lama mendapatkan tempatnya dalam kamus bahasa, dan kehidupan.

Orang-orang masih terlihat tenang. Mereka tetap berada di
tempat mematung seperti salju yang mencair kepanasan. Atau kejadian
seperti ini sudah bisa bagi mereka. Sudah biasa menjalani hidup sebagai
manusia pinggiran. Sabar menatap mobil-mobil yang berkeliaran. Aku
kebingungan. Kegelisahanku menyerbu dengan berbagai macam pertanyaan.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebagian mata usil memandangku. Di
sebelah pojok dekat pintu sekelompok anak muda tampak bercanda.
Sesekali mataku memergoki tatapan nakal mereka. Lalu mereka
bercakap-cakap sesama temannya dan kemudian tertawa. Kebiasaan! Jujur
saja aku sangat jengkel. Mereka seperti sedang menertawakanku. Apa
mereka tidak sadar bahwa kita sama-sama pingiran. Apa karena aku orang
asing yang bertubuh kecil? Atau rambutkan yang panjang terurai, lalu
mereka anggap aneh karena tidak seperti rambut-rambut mereka yang ikal
kaya supermie.

Mungkin hanya aku terlalu berprasangka. Namun tatapan nakal
mereka begitu menusuk. Apa salahnya aku yang seperti ini. Aku pikir
barangkali mereka sedang membicarakan sesuatu seperti kebiasaan iseng
anak-anak muda Arab yang tidak ada kerjaan setiap kali bertemu orang
asing, apalagi perawakan asia. Mereka selalu merasa hebat.
Kadang-kadang juga hal-hal itu menjadi lucu. Bayangkan saja, dalam
sebuah perjalanan di eltramko (angkot) saya sering berkenalan dengan
mereka. Setelah basa-basi sejenak, muncul pertanyaan yang aku sendiri
tidak habis pikir harus menjawab apa. “Di Indonesia ada ngga
gedung-gedung tinggi seperti itu?” tanyanya sambil menunjuk
gedung-gedung apartemen yang berjejer rapi. Atau saat mobil eltramko
melintas di atas jembatan layang, mereka iseng bertanya, “Ada ngga sih
di Indonesia jembatan layang seperti ini?”

Dalam beberapa kesempatan, aku sendiri tidak pelit untuk
memuji karena banyak hal yang memang patut untuk dipuji. Di Indonesia
aku sering menemukan orang yang menjawab dengan rendah hati setiap kali
pujian dilontarkan. Kalau tidak mengatakan, “ah kamu bisa aja” atau
“biasa aja, kawan” paling tinggi jawaban yang aku dapatkan adalah
terima kasih. Di Mesir kebiasaan seperti itu sangat jarang aku temukan.
Sekali anda melontarkan pujian terhadap Pyramid misalnya, maka anda
akan mendengarkan banyak hal yang barangkali tidak anda ketahui, tapi
bagi mereka juga layak untuk dipuji. Puncaknya mereka akan mengatakan,
“Mesir ummud dunya (Mesir Ibu Dunia).” Kadang aku iseng juga menyahut, “Benar, Mesir ibu dunia. Indonesia bapaknya.”
“Kamu di sini dalam rangka apa?”
“Kuliah.”
“al-Azhar?”
“Ya.”
“Kamu pasti tahu ada hadits Nabi mengatakan: berbuat baiklah kepada
ibumu. Kemudian siapa lagi? Ibumu. Sampai tiga kali, kemudian baru Nabi
mengatakan: ayahmu.”
“Jadi?”
“Lebih hebat ibu dong!”
Dia terbahak-bahak menikmati kemenangannya persis raksasa yang mengaum
bergema di depan tubuh musuhnya yang terkapar tak bernyawa.

Lebih sialan lagi suatu kali terjadi di Tram Listrik dalam
perjalanan dari Kheder Tony ke Ramsis. Tramnya lebih bagus dari yang
aku tumpangi sekarang. Gerbongnya lebih besar bewarna hijau dan kursi
berwarna merah yang tersusun rapi saling berhadapan. Waktu itu tidak
berdesakan seperti ini. Aku lihat samping kiri dan kanan masih banyak
kursi yang kosong. Di sebuah stasion kereta, dua orang pemuda Mesir
bertubuh tinggi besar dan berambut ikal naik. Entah alasan apa mereka
memilih duduk di depanku yang memang kosong. Padahal masih banyak
kursi-kursi lain. Tram berangkat. Dua orang ini saling berpandangan
kemudian tersenyum-senyum sambil menatapku. Aku pasang muka cuek. Salah
seorang dari mereka membuka pembicaraan. Basa-basi klasik bermula
dengan bertanya jam.

“Pukul berapa sekarang?”
Aku reflek menatap pergelangan tangannya. Sebuah jam tangan merk Casio melingkar. Dia hanya tersenyum tanpa dosa.
“Jam di tanganmu mati?”
“Aku hanya ingin tahu bahasa Arabmu. Kamu di sini dalam rangka apa?”
“Kuliah.”
“Kuliah apa? Azhar?”
“Ya, Azhar. Fakultas Bahasa Arab.”
“Aku kuliah di Ain Syam. Fakultas Sejarah dan Peradaban.”
Aku diam. Tatapanku sengaja kualihkan ke luar jendela.
“Kamu dari mana? Jepang?” tanyanya lagi.
“Bukan, Aku dari Indoensia.”
“Oh, negri yang indah. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Kenapa orang-orang Indonesia itu tubuhnya kecil-kecil dan rambutnya
rata-rata lurus seperti rambutmu? Bahkan orang-orang Asia rata-rata?”
“Aku juga tidak mengerti. Sudah design takdir seperti itu.”
“Ah masa sih. Kalau menurut dosenku, itu ada kaitannya dengan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.”
“Kamu mengada-ada aja.”
“Eh sumpah. Itu kata dosenku. Ada dalam diktat kok.”
“Kamu mau mencandaiku saja.”
“Benar. Jadi katanya, setelah bom Hiroshima itu dampak negatif mulai
dirasakan orang-orang di sana. Bahkan pengaruhnya sampai ke wilayah
Asia yang jauh. Salah satu dari akibatnya kemudian, tubuh orang-orang
Asia menjadi kecil-kecil.”
“Ah sialan kamu. Memang mau mengejek aja.”
“Lho kamu tidak percaya?! Nanti aku bawakan diktatnya. Dalam diktat itu
juga disebutkan, bahwa rambut orang-orang Asia itu rata-rata lurus,
tidak ikal keriting seperti kami, itu pengaruh bom Nagasaki.”
“Aku tidak percaya. Kamu bohong. Apa hubungannya bom atom dengan rambut.”
“Nah makanya kenapa perawakan kalian itu kecil-kecil dan rambut kalian lurus-lurus.”
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Aku tidak memperdulikan lagi. Di
stasion Ghamra mereka turun. Tram kembali bergerak perlahan. Dari luar
jendela mereka masih menunggu gerbongku lewat sambil tertawa puas.
“Makanya nanti kalian harus lebih hati-hati. Kalau ada bom atom seperti
Hiroshima dan Nagasaki lagi, tubuh kalian akan semakin kecil,” katanya
setengah berteriak.
“Sialan!”

26 September 1996

Apakah Ini Pertanda?

August 16th, 2005 by camkueh

Belum aku pastikan lagi, Nonaku, siapa kamu
Apakah engkau wanitaku yang kunanti-nanti
Atau boneka manis alatku membuang waktu
Belum aku pastikan, Nonaku

Sedang engkau dalam pikiran
apabila ku berpikir
Engkau dalam lembaran biru
apabila ku menulis
dan engkau dalam koperku
apabila aku bepergian
engkau dalam visa entry
dalam sunggingan senyum wanita penyambut yang hijau
dalam gumpalan awan seperti lengan
yang melilit manja di badan pesawat

Engkau hadir di restoran-restoran
yang menyajikan arak
dan keju di Paris, dan di kubah-kubah Metroality
menebarkan cinta dan goluaze
dalam syair-syair Perlin yang terjual
di tepi kiri dari Sin
Dan dalam puisi-puisi Boudlier yang menusuk
seperti keris terhunus.. bertubi-tubi.. di pinggul

Dan engkau di London
seperti switer wol melilit tubuh
apabila aku kedinginan
Dan engkau di Madrid
di Stockholm
di Hongkong
di atas tembok Cina

Aku lihat engkau di depanku kemana saja mata menatap
di restoran hotel atau di cafe
Aku jumpai engkau dalam gelasku
jika aku minum
aku temukan engkau dalam tangisku
ketika aku bersedih
Aku ingin tahu, Nonaku
Apakah ini pertanda
Aku telah jatuh cinta?

Nizar QabbaniTerjemah: AmanOriginal Link

Aku Indonesia

August 16th, 2005 by camkueh

Apa guna sejengkal tanah
kini semua digenggam durjana
dan kau tak lagi pinggiran
semua sirna tersisihkan

apa guna, kau Indonesia!
merdeka tak merdeka sama
jadi negri miskin papa
terasing di tanah pijakan sendiri
kecuali durjana
Mau kau, Indonesia durjana!
air mengalir penuh comberan
menjerit pilu minamata
kabut tebal perihkan mata
agar bajingan lahap memangsa
Jadilah kau, Indonesia!
tumpah darah tumpah
negri air mata dan kekerasan.

gerak sunyi di etalase
menyisakan deru
dan sisa-sisa debu
setelah kau hujamkan kata-kata
kepadaku

Dengar baik-baik!
Pelupukku Indonesia
rambutku hingga berubah warna, Indonesia
tulang belulangku hingga rontok, Indonesia
daging dan kulitku sampai keriput, Indonesia
Dengar baik-baik,
sekali lagi!
Indonesiaku Indonesia
Pertiwiku pertiwi
meski terbaring koma

Tak kusesal menjadi Republik
bersama pertiwi mengenang darah dan air mata
manusia-manusia merdeka
meski hutan tak lagi hijau
walau sungai mengering lumpur
Aku Indonesia
meski burung tak lagi bernyanyi
di pangkuan rimba, terlahir jiwa
tanah medeka
Aku Indonesia

Tak kusesal menjadi Indonesia
Darahku merah darah pertiwi
jiwaku putih jiwa merdeka
kan kutebus nyawa seribu nyawa
siapa lancang membuyarkan
mimpi pertiwi
manusia merdeka

Cairo, 9 Agustus 2005
Original Link

Fatwa MUI Pluralisme Haram; Sebuah Pandangan

August 1st, 2005 by camkueh

Tidak lama ini, lembaga Fatwa MUI kembali mengeluarkan 11 butir fatwa. Dari sekian fatwa itu, banyak persoalan yang harus ditanggapi secara serius. Salah satunya adalah bahwa pluralisme itu haram. Kali ini saya ingin memberikan pandangan pribadi terhadap fatwa ini tanpa mendalami lebih lanjut berbagai macam teori dan konsep tentang apa yang dimaksud dengan pluralisme sebenarnya. Tapi fatwa MUI itu penting untuk ditanggapi sehingga kita tidak terjebak dalam konsep-konsep baku dan sempit. Karena sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap hal dalam dunia ini berjalan dinamis secara terus menerus. Atau dalam bahasa yang lain, terus berproses. Dan tanggapan saya terhadap fatwa MUI ini tentu saja sangat terkait dengan pandangan saya sendiri tentang apa yang kita sebut dengan pluralitas dan pluralisme.

Pluralitas dan pluralisme adalah dua istilah yang saling bertautan satu sama lain. Secara lebih mendalam, antara keduanya mungkin ada banyak perbedaan. Kalau kita simpulkan saja perbedaan antara kedua istilah itu, bisa kita katakan bahwa pluralitas adalah perbedaan yang sudah niscaya dan nyata yang disadari oleh setiap pihak yang berbeda dengan sikap saling menghargai dan menghormati. Sedang pluralisme adalah istilah yang muncul dalam perkembangan lebih lanjut dari istilah yang pertama. Perbedaan ini akan menjadi lebih jelas dalam pemaparan pandangan saya selanjutnya.

Saya kemukakan perbedaan sekilas terlebih dahulu karena dalam beberapa beberapa diskusi, ada beberapa pihak yang menjadikan pembedaan dua teori ini sebagai pembenaran terhadap fatwa MUI tersebut. Menurut mereka, pluralitas bukanlah hal yang baru dan itu sudah sejak lama diakui oleh Islam. Pluralitas yakni keberagaman yang niscaya dan tampil secara nyata di mana-mana dan kapan saja. Sedang pluralisme merupakan aliran yang beranggapan bahwa semua agama adalah sama. Dan atas dasar itu, fatwa MUI yang menyatakan bahwa pluralisme itu haram sangat tepat dan memang sudah seharusnya karena anggapan bahwa semua agama adalah sama itu sama sekali keliru dan salah. Artinya, kelompok ini berpandangan bahwa pluralisme berarti memeluk semua agama sekaligus.

Apakah memang itu yang dimaksud dengan pluralisme? Apa dasar penafsiran mereka yang menyatakan bahwa pluralisme itu artinya memeluk semua agama sekaligus? Apa bukti kuat yang mereka ajukan untuk mendukung penafsiran dan pemahaman mereka bahwa maksud pluralisme yang menyatakan "semua agama adalah sama itu" berarti memeluk agama-agama sekaligus? Bahkan kelompok-kelompok yang sejak dulu mengampanyekan pluralisme sekalipun tidak ada yang memeluk semua agama sekaligus. Dan itu sudah cukup menunjukkan bahwa maksud "semua agama adalah sama" itu bukan berarti memeluk semuanya sekaligus. Namun lebih pada suatu sikap dan kesadaran untuk menumbuhkan saling kebersamaan bagi setiap pihak yang memang berbeda-beda itu.

Pada dasarnya agama itu subyektif dan obyektif sekaligus. Pemisahan total antara kedua unsur itu adalah sekuler, tapi pemilahan antara keduanya adalah keniscayaan. Kalau meminjam teorinya wihdatul wujud, sebut saja "berkait tak terpisah dan terpisah tak mungkin bersatu." Atau seperti dalam diskusi kita kemarin; setengah kosong dan setengah penuh.

Saya menjadi teringat cerita lama. Konon Lukman dan anaknya sedang berjalan membawa keledai. Pertama kali Lukman dan anaknya menunggang keledai itu. Lalu mereka bertemu dengan sekelompok orang dan memberikan komentar, "teganya, keledai yang lemah itu ditunggang berdua." Lalu Lukman turun dari keledainya dan membiarkan anaknya yang menunggang. Kemudian mereka bertemu lagi dengan sekelompok orang dan memberikan komentar, "Anak yang tidak tahu adab. Orang tua yang sudah bangka dibiarkan berjalan sendirian sedang ia ongkang-ongkang di atas keledai." Lalu Lukman menurunkan anaknya dan dia sendiri yang menunggang keledai sampai kemudian bertemu lagi dengan sekelompok orang. Lagi-lagi mereka memberikan komentar, "teganya orang tua ini, enak-enak di atas keledai sendiri sedang anaknya dibiarkan berjalan kaki." Akhirnya Lukman turun dari keledainya. Saat mereka sama-sama tidak menunggang keledai, mereka bertemu lagi dengan sekelompok orang. Orang-orang tersebut berkomentar, "betapa bodohnya, kenapa keledainya tidak ditunggang saja?"

Apakah cerita ini benar terjadi secara nyata atau tidak, saya tidak tahu. Namun ada pertanyaan yang layak untuk diajukan, dari cerita itu manakah yang bisa kita sebut subyektif dan mana yang obyektif?

Mungkin begitulah kenyataan agama yang subyektif dan obyektif sekaligus. Inti agama adalah kepercayaan dan keyakinan. Sedang keyakinan tempat utamanya adalah hati dan jiwa. Hati dan jiwa ada dalam raga. Kalau kita sebut agama atau beragama secara kaffah, artinya agama ada pada jiwa dan raga sekaligus. Namun, raga itu sendiri berada di tengah-tengah raga yang lain. Dan raga yang lain itu juga mempunyai hati dan jiwa. Bisakah jiwa pada raga yang satu menghormati jiwa pada raga yang lain, baik apakah jiwa itu mempunyai keyakinan yang sama atau berbeda? Inilah maksudnya pluralitas.

Ketika setiap jiwa yang ada dalam setiap raga itu menyadari hal ini.. lalu tumbuh dalam sebuah kesepemahaman yang sama untuk saling menghargai dan menghormati.. dan pada gilirannya tidak terhenti hanya sebatas kesadaran teoritis.. tapi juga setiap raga yang berada di tengah-tengah raga-raga yang lain itu bergerak secara dinamis dan sistematis dalam hiruk pikuk kehidupan.. dan dari waktu ke waktu kemudian menemukan point-point tertentu yang bisa diusung secara bersama-sama.. dikonsep.. dirumuskan.. dipraktekkan dan dikembangkan secara terus menerus.. maka pada titik inilah saya kira yang disebut dengan pluralisme.

Jadi hanya satu saja point saja yang bisa diambil sebagai pembenaran terhadap fatwa MUI itu, yaitu pluralisme pada jiwa.. Dengan kata lain, pluralisme pada sisi agama subyektif. Atau secara lebih tegas dalam penyederhanaan yang mudah dipahami, pluralisme pada kepercayaan atau iman. Artinya, satu jiwa beriman pada Allah.. beriman pada Yesus.. beriman pada Dewa-Dewa dst, adalah haram.

Pertanyaan selanjutnya, apakah itu yang dimaksud dengan pluralisme yang dibahas selama ini? Sesuai dengan pandangan saya tentang pluralitas dan pluralisme di atas, menurut saya jawabannya adalah tidak. Dan fatwa MUI soal itu merupakan sebuah langkah mundur sekaligus menjadi salah satu bukti bahwa MUI pada sudut ini lebih banyak hidup dalam lingkup agama subyektifnya daripada agama obyektifnya. Padahal agama adalah subyektif dan obyektif sekaligus.

Original Link

Agama Menjadi Candu

July 21st, 2005 by camkueh

Masih ingat adagium lama yang dilontarkan oleh Karl Marx atau Sigmund Freud? Kalimat pendek yang sempat mengguncangkan dunia antara yang mengiyakan dan membantahnya habis-habisan hingga sekarang? Agama adalah candu masyarakat. Apakah memang agama itu diturunkan sebagai candu atau manusia yang menerima agama itu sendiri yang telah menjadikannya sebagai candu. Seterusnya apakah lontaran kalimat ini benar atau salah, bagi saya terserah anda masing-masing menilainya tergantung dari sudut mana anda memandangnya.

Namun akhir-akhir ini hati kita diguncang rasa keprihatinan yang mendalam setelah mendengar berita yang sedang gencar dari kabar-kabar tersiar tentang sekelompok orang yang dengan jumawa berdiri di atas mimbar di tengah lapang mengumumkan kepada dunia, kamilah yang paling benar.. dan kamilah orang yang pasti menghuni surga.

Tidak ada masalah jikalau hanya terbatas itu kemudian masing-masing mereka kembali kepada kehidupannya masing-masing sebagai manusia sebagaimana layaknya manusia-manusia yang lain. Hidup di bawah langit yang sama dan berpijak di atas bumi yang sama. Tetapi menjadi lain, ketika kelompok itu kemudian secara bergerombol membabat habis siapa saja yang mereka anggap berbeda.. dan mereka tuduh telah keluar jalur dari yang mereka gariskan sendiri. Mereka menghancurkan siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka seperti sedang berada di tengah laga pertempuran. Itulah yang dalam beberapa hari terakhir ini kita saksikan sedang terjadi di negri kita. Sekelompok orang menyerang markas Jamaah Ahmadiyah di Kampus Mubarak, Parung, Bogor.

Kita tidak sampai mengerti sejak kapan ada sekelompok orang mengklaim diri mereka sebagai orang yang paling berhak atas Islam. Lebih dari itu, mereka tidak hanya mengklaim Islam yang benar saja.. tapi juga bertindak sebagai hakim yang berhak memutuskan nasib dan keyakinan orang lain. Entah sejak kapan mereka mengangkat diri mereka sebagai wakil Tuhan di dunia ini.

Peristiwa ini semakin menambah deretan masalah di negri ini yang seperti tidak akan pernah habis-habisnya. Kita sendiri rupanya yang membuat masalah demi masalah itu. Padahal masih sekian banyak masalah yang sampai kini tidak mendapatkan penyelesaian yang berarti. Busung lapar yang terus melanda anak negri hingga ke pelosok. Anak-anak yang bunuh diri hanya karena beban hidup atau tidak mampu membiayai pendidikan. Janin yang harus mati di rahim ibunya hanya karena dokter-dokter RS yang "manusia" itu tidak mau menolong disebabkan pasien yang tidak punya uang. Dan sederetan masalah-masalah yang sejak lama tak pernah bisa teratasi hingga kini. Dan sekarang, masalah-masalah itu terus kita tambah dengan tangan-tangan kita sendiri.. dengan segala keangkuhan dan kesombongan manusia.

Sudah tentu pro dan kontra bermunculan di mana-mana. Mulai dari forum yang bersifat resmi sampai dengan forum-forum informal dan bahkan postingan-postingan yang bersifat pribadi memberikan suara dan pendapatnya terhadap apa yang telah terjadi. Tidak lebih dari Ulil Abshar Abdallah, JIL dan beberepa elemen Aliansi yang getol mengkampanyekan gerakan kebebasan memilih dan berkeyakinan mengecam kejadian itu. Mereka menuding fatwa MUI sebagai biang keladi penyerangan itu.

Dari bagian yang lain muncul dukungan yang mengatakan bahwa tuduhan dan kecaman kelompok pertama terlalu berlebihan. Saya yakin, para pembaca pasti bisa mengetahui lebih jelas kelompok kedua ini. Kelompok kontra pluralis atau lebih jelas lagi, kelompok yang memang akan terus berseberangan dengan JIL dan sejenisnya. Dua kelompok yang tidak akan pernah akur dalam banyak masalah apa saja lebih dari tidak akurnya anjing dan kucing dalam istilah pribahasa. Apakah kelompok kedua ini sadar kalau mereka secara tidak langsung telah memberikan pembelaan dan justifikasi terhadap penyerangan itu.

Terlepas dari perdebatan pro dan kontra itu, bisakah masing-masing kita merenung sejenak untuk melihat kenyataan yang lebih pahit. Membuka nurani kita lebih luas lagi kepada Jamaah Ahmadiyah yang telah menjadi korban penyerangan. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang berhak untuk hidup dan memilih sebagaimana manusia lainnya. Kabar yang kita dengar, penyerangan itu tidak hanya menyakitkan perasaan tapi juga mengarah pada bentuk intimidasi.. teror dan bahkan perusakan secara fisik. Bagaimana dengan keluarga mereka.. tempat tinggal mereka.. anak-anak mereka yang ketakutan.. waswas.. dan tidak nyaman dalam menjalani hidup. Mereka seperti terdakwa di tempat mereka sendiri.. di rumah mereka sendiri. Kemanusian mereka menjadi terusik hanya karena mereka manusia.

Dan lebih dari itu, terlepas dari perdebatan pro dan kontra itu, sekalipun seluruh manusia di dunia ini menudingkan tangan kepada Jamaah Ahmadiyah sebagai aliran sesat sejuta sesat, intimidasi, teror, penyerangan fisik, perusakan, dan penghancuran sama sekali tidak bisa ditolerir dengan alasan apapun dan dengan dalih apapun. Apa yang telah mereka lakukan murni sebuah tindakan kriminal yang harusnya diproses secara hukum, khususnya siapa sebenarnya yang berada dibalik peristiwa itu. Seyogyanya hal-hal seperti ini harus diusut tuntas sehingga tidak menimbulkan ancaman-ancaman serupa yang merusak tatanan masyarakat kita.

Hal yang lebih menyentuh keprihatinan saya yang paling dalam, beberapa hari terakhir ini banyak dari kawan-kawan setelah peristiwa itu.. dengan rasa keprihatinan dan penyesalan yang dalam.. lewat berbagai media yang tersedia, yang kemudian menyampaikan kepada saya, "Man, ternyata hidup ini lebih indah tanpa agama." Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan kepala tertunduk sedih saya hanya berkata dalam hati, "Agama tidak pernah menyesal turun ke bumi. Hanya manusia saja yang telah membuat agama itu menjadi candu.. yang membuatnya mabuk dan tidak bisa membedakan lagi.. sehingga merasa dan beranggapan dirinyalah agama itu dan agama itu adalah dirinya sendiri."

Catatan:
Artikel ini hari ini hilang lagi. Gara-garanya, kesalahan yang ada ketika melakukan posting lewat w.bloggar yang ternyata ketika saya posting baru yang berjudul Reiser FS yang menyiksa, rupanya menimpa artikel ini. Untung saja sudah saya backup sebelumnya kecuali bagian awal yang sempat hilang lagi. Sebelumnya hilang gara-gara ngetik di html area admin blog dan setelah submit, login saya time out. Duh!!

Original Post…

Gentoo: Coba gcc 3.4.4

June 21st, 2005 by camkueh
Gcc 4.0 sudah keluar untuk testing tapi aku ngga berani karena banyak kesibukan yang menumpuk. Ala kulli hal, gcc 3.4.3. pun aja sudah bikin repot dan sekarang juga sudah keluar updatenya; gcc 3.4.4. Pikir punya pikir mending aku update kesini dulu aja deh karena pasti tidak terlalu jauh kalau ada error. Memang saya masih ngotot menggunakan CCFLAGS yang cukup ekstrim sehingga wajar resiko errornya besar.

Benar saja dugaan saya, beberapa kali ulang update glibc ke versi 2.3.5 gagal. Coba lagi dan coba lagi akhirnya berhasil juga. Begtu juga dengan gcc 3.4.4 gagal dan gagal terus. Untuk menjaga jangan sampai resikonya menimbulkan banyak pekerjaan tambahan lebih baik saya pikir untuk install tersendiri. Mungkin itulah keuntungannya di gentoo. USE="multislot" emerge -av gcc memungkinkan saya untuk install gcc-3.4.4 tanpa harus update dan menghilangkan gcc-3.4.3. Akhirnya berhasil juga. Bebarapa saat saya menunggu server berkeja sebagaimana mestinya. Memang ada 3 kali crash.

Setelah lama berpikir akhirnya saya ambil keputusan untuk mengganti CCFLAGS yang ekstrim; CFLAGS="-O3 -march=pentium3 -mtune=pentium3 -fprefetch-loop-arrays -funroll-loops -fomit-frame-pointer -pipe -msse -fforce-addr -momit-leaf-frame-pointer -mmmx -mfpmath=sse -falign-functions=4 -frerun-cse-after-loop -ffast-math -fexpensive-optimizations" menjadi jangan terlalu ekstrim. FLAG compile yang hanya CFLAGS="-O2 -march=pentium3 -mtune=pentium3 -fprefetch-loop-arrays -funroll-loops -fomit-frame-pointer -pipe -msse".

Hasilnya? lumayan. Tidak pernah mengalami crash lagi tapi perfomance server agak terasa berkurang. Untuk keperluan yang membutuhkan waktu banyak saya terpaksa melakukan beberapa modifikasi agar bisa cepat. Paling tidak untuk pekerjaan-pekerjaan yang menangani banyak objek seperti portage dan pencarian software. Saya install psyco yang katanya berguna untuk optimasi python. Kemudian saya juga mengganti system database portage menggunakan cdb dan yang tidak kalah pentingnya adalah install eix untuk search.

Setelah saya coba benchmark, hasilnya memang lumayan. Untuk update metada bisa reduce waktu sekitar 45%. Sayang saya lupa merekam hasilnya kemarin. Mungkin nanti akan saya tunjukkan perbedaannya. Sedangkan pencarian sangat sangat efisien dan efektif. Silahkan lihat perbedaannya ketika saya mencoba mencari eggdrop sebagai test:

Tanpa eix:
#time emerge -s eggdrop
Searching…
[ Results for search key : eggdrop ]
[ Applications found : 1 ]

real 0m29.454s
user 0m5.174s
sys 0m1.216s

Menggunakan Eix:
# time eix eggdrop
Found 1 matches

real 0m0.647s
user 0m0.404s
sys 0m0.046s

Oh ya langsung saya update sekarang juga karena ada kesempatan untuk melakukan test update metadata. Inilah hasilnya dari dua perbedaan tersebut:

Tanpa psyco dan sebelum menggunakan database cdb:
#time emerge metadata
skipping sync
>>> Updating Portage cache: 100%

real 9m19.802s
user 5m24.882s
sys 0m54.185s

Menggunakan psyco dan database cdb pada portage:
# time emerge metadata
skipping sync
>>> Updating Portage cache: 100%

real 4m17.553s
user 1m22.020s
sys 0m13.663s

Anda lihat sendiri hasilnya kan?

Original Link

Open Source, Alternatif yang Masih Serba Salah

June 2nd, 2005 by camkueh

Hari ini saya membaca posting salah seorang teman di sebuah milist sastra. Katanya stress juga ketika ke Warnet tidak menggunakan Windows lagi. Semua sudah beralih ke Linux. Dia juga mengutarakan bagaimana dia pusing harus belajar lagi cara mengirim tulisan ke media. Buka disket mesti mutar-mutar dulu. Segudang pertanyaan pun dia ajukan, bagaimana kalau sistem kita berbeda? Attachmentnya sampai apa tidak? Bahkan dengan jujur dia mengaku bingung satu jam habis buat mempelajari linux.

Pada saat yang sama saya sempatkan bertanya kepada kawan di irc, apakah warnet di Indonesia sudah menggunakan linux semua di clientnya? Dia menjawab, ya sebagian besar sudah migrasi. Alasan paling utama untuk menghindari lisensi. Dan mungkin sweeping yang gencar beberapa bulan belakangan ini. Saya hanya memberi komentar kepada kawan tersebut bahwa hal itu ada baiknya biar tambah asik dan user mau tidak mau mengenal linux, betapapun susahnya.

Di Linux.or.id  ada artikel yang cukup menarik dengan judul Open Source = Gratis, kekuatan sekaligus kelemahan. Saya memang tidak bermaksud untuk memperpanjang perdebatan tentang kelemahan dan kekuatan Open Source ini. Toh saya sendiri masih tetap bermain di berbagai distro dan tanpa meninggalkan Windows. Menurut saya, bagaimana pun juga masing-masing pasti memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan sudah cukup banyak ulasan dalam berbagai bahasa yang mencoba mempelajari, menganalisa, membandingkan dan mengambil kesimpulan di antara keduanya.

Tapi satu hal dari sudut global yang patut dicatat, linux sendiri masih terbilang muda khususnya di dunia desktop sehingga wajar saja kelemahan-kelemahan tentunya buat End-user lebih disebabkan masih kurangnya dukungan terhadap aplikasi-aplikasi yang sudah sangat biasa digunakan oleh End-User kebanyakan, seperti ICQ, Yahoo Messenger, dan beberapa aplikasi lain termasuk yang sudah pasti adalah MSN. Sedangkan aplikasi-aplikasi lain boleh dibilang sudah cukup tersedia. Kelemahannya hanya terpulang kepada pengenalan yang minim dan kebiasaan yang sudah berjalan lama.

Sedangkan dalam lingkup Indonesia, khususnya warnet-warnet yang lebih didominasi kalangan pemodal menengah ke bawah bahkan mungkin patungan antar kawan-kawan seperti warnet KiNaNa FamiLy di Cairo ini, jelas menggunakan linux dan OS Open Source lainnya di komputer client adalah solusi yang tak terhindarkan. Apalagi ketika diterapkannya UU Haki yang kemudian berujung pada razia lisensi yang dilakukan oleh pihak yang berwenang. Tentu saja, dalam masa sekarang alternatif ini masih terbilang serba salah. Khususnya pada user-user umum yang ingin menggunakan jasa warnet. Maka tahap awal ini memang dibutuhkan suatu pengorbanan baik waktu atau materi, paling tidak untuk memperkenalkan linux kepada end-user.

Selama ini, para penggiat linux Indonesia memang masih terkonsentrasi pada setting dasar atau katakanlah System Administrator mulai dari cara install OS itu sendiri, install aplikasi utama baik yang berkaitan dengan sistem keamanan atau penunjang kinerja, auditing system, service aplication, dan lain-lain. Masih sangat jarang kita temukan artikel atau tutorial untuk pengguna dasar atau buat orang-orang awam yang sama sekali belum mengenal linux hingga penjelasan untuk kebutuhan praktisnya. Maksud saya tentu saja semacam guide book untuk end-user secara praktis.

Open Source sebenarnya mencerminkan kebebasan yang kreatif. Melihat fenomena Indonesia misalnya, seorang admin warnet yang kreatif bisa saja menawarkan hal-hal seperti itu sebagai nilai jual kepada end-user. Sediakan buku panduan praktis bagaimana chatting di linux, bagaimana browsing, bagaimana mengirim email, bagaimana menggunakan icq, yahoo messenger, login logout, hingga masalah terkecil sekalipun. Dan bahkan bisa saja menambah service lainnya, seperti layanan member dengan fasilitas penyimpanan messegae untuk email pop3 atau dokumen lain yang dijamin terjaga privacynya dan ditunjang backup data. Tentu hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan NFS misalnya atau service lainnya dalam sebuah linux sederhana tetapi berkapasitas Hard Disk besar. Dan layanan itu sendiri masih bisa dikembangkan lebih jauh, seperti memberikan user email dengan domain unik yang disediakan.

Sekali lagi memang tahap awal sedikit susah. Bukankah kita juga terbiasa dengan tahap awal yang susah. Saya yakin end-user yang awam terhadap Open Source seperti linux ini saatnya nanti akan terbiasa. Keuntungan warnet tidak hanya mengandalkan kreativias admin dalam memberikan layanan tapi juga berjasa memperkenalkan alternatif lain yang murah, bebas ekpresi, dan cocok dengan alam indonesia dalam kondisi "ukuran rakyat Indonesia yang masih mendahulukan pangan," kata Vavai dalam artikelnya di linux.or.id tersebut.

Anjuran-anjuran berkreatifitas tinggi bagi para Linuxer ini seingat saya sudah sejak lama dikumandangkan oleh pak Onno W. Purbo dan lain-lain dalam banyak artikel dan buku-bukunya. Satu hal lagi, akhir-akhir ini kita sering menemukan kajian, analisa, atau survey yang dilakukan oleh lembaga tertentu terhadap Open Source ini, khususnya Linux. Tidak jarang dari penelitian itu yang memberikan kesimpulan yang "memihak" kepada microsoft atau minimal sama. Tapi perlu diingat bahwa sebagian besar kajian mereka lebih terfokus pada perusahaan-perusahaan besar atau lembaga. Kalau kita sandingkan hasil penelitian tersebut dengan warnet di Indonesia, sudah pasti menggunakan Linux atau OS Open Source lebih murah dan sama sekali tidak mengandung resiko lisensi. Jadi apa lagi?

*Pengguna Gentoo -:)*

Original Link 

Pancasila Yang Terlupa

June 1st, 2005 by camkueh

Tak terasa 1 Juni berlalu begitu saja. Seperti hari-hari biasa, bahkan berbagai media tidak terlalu sibuk untuk memberitakannya. Mungkin sensasi Pilkadal yang sudah dimulai di Kab. Kutai Kartanegara mampu menyisihkan. Atau bisa jadi Teror di KBRI Canberra lebih menuntut perhatian yang ekstra. Atau yang lain lagi, Syaikh Maulana terindikasi melakukan tindak kriminal. Atau bom Tentena dari anak-anak durhaka yang memecah kesunyian. Atau.. atau.. atau…

Diam-diam tanpa banyak bicara, para tokoh sedang bertemu secara informal di kediaman pak Try, mantan Wapres RI yang pernah kujabat tangannya. Gus Dur bilang, saya hanya diundang ya datang. Setelah pertemuan usai, beberapa tokoh pun memberikan keterangan tentang pertemuan. Kesimpulannya, Hari ini (1 Juni) kan Hari Pancasila. Dauh tidak terlalu bergema, Hari Valentin di masyarakat kita lebih bermakna. Tak penting! Tapi banyak hal yang cukup mengejutkan. Jati diri kita dipertanyakan?! Mungkin tidak hanya satu berita ini saja, banyak kejadian lain yang tak sempat terekam media. Entah karena tak layak jual, entah karena memang tidak penting, entah karena.. karena.. dan berbagai macam alasan lain.

Kerusuhan di Desa Runtu, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, yang memakan korban jiwa dan luka. Biasa-biasa saja, dan tidak perlu diekspos. Toh mungkin banyak media berpikir, peristiwa bukan terjadi di Jakarta atau tanah Jawa. Atau mungkin juga mereka berpikir, modus kerusuhan sudah biasa. Apalagi kalau bukan lingkaran segitiga seperti lazimnya; Pemerintah, Pengusaha, dan Preman. Kasus yang kurang lebih sama sedang terjadi di Batu Bua, tanah kelahiran almarhum kakek orang tua ibu. Air sungai Laung yang kecil sudah tercemar dan beberapa penduduk melaporkan diserang gejala gatal-gatal. Perusahaan Tambang pun menjadi sorotan. Tapi apa daya, Penanggung Jawab sedang ongkang-ongkang di Jakarta dengan alasan klasik "sedang ada rapat penting."

Garuda entah sedang terbang kemana?! Pancasila diperutnya itu sama sekali hanya untuk mengenyangkan dirinya sendiri dengan pamflet mempesona, "Bhinneka Tunggal Ika." Padahal siapa lagi yang bisa mendengar kata nurani masing-masing kecuali diri sendiri?! Kawan-kawan di milis dayak@yahoogroups.com mencoba mengekplorasi apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa penduduk tak berdaya yang menjadi korban? Diskusipun beranjak dari kejadian desa Runtu dan pencemaran Sungai Laung menuju pembicaraan yang lebih luas; Kapitalis dan Anti-Kapitalis yang bercampur aduk dalam ruang Idealisme dan realitas.

Soal kapitalisme kemudian merambah kepada investor nakal. Ada yang oleh salah seorang kawan disebut mencoba mencari kambing yang patut untuk dihitamkan dalam masalah ini; investor nakal. Bagaimanapun, persitiwa itu telah terjadi sehingga tidak terlalu berguna untuk mencari-cari siapa yang harus bertanggung jawab. Dan menurutnya, di sinilah peran publik harus hidup dan kritis. Terlebih lagi LSM-LSM yang memang terfokus pada masalah-masalah tersebut. Pendapatnya ini ada benarnya, tapi dia keliru pada bagian akhir ketika menghadap-hadapkan persoalan kapitalisme semata-mata pada persoalan Capital. Apalagi dengan argumen yang cukup lemah, mengajak kawan-kawan yang anti kapitalisme untuk konsisten tidak menggunakan output teknologi seperti mobil, pesawat, komputer dan lain-lain. Saya lihat dalam pendapatnya ini ada sebuah kesenjangan pemahaman antara kapitalisme dan kapital yang berarti modal.

Kawan-kawan yang anti-kapitalisme jelas menyalahkan investor yang tidak bertanggung jawab dalam masalah itu. Menurut mereka, investor hanya ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan faktor-faktor lain. Mungkin perlu saya tambahkan, bahwa investor mencari keuntungan sebanyak-banyaknya memang tujuannya. Tidak akan pernah ada investor yang mau rugi bagaimanapun juga. Jadi persoalan kapitalisme dan investor ini bukan terletak pada sudut untung-rugi, tapi terletak pada cara dalam mencapai tujuannya tersebut. Masuknya investor memang ada sisi positifnya pada sudut perkembangan ekonomi dan pembukaan lahan kerja bagi banyak orang. Tetapi caranya itulah yang dipertanyakan. Konsep Machiavelli yang menitikberatkan pada output atau hasil tanpa memberikan pandangan yang setara pada cara, ini yang tampaknya dominan dalam praktek kapitalisme. Sudut yang harus ditekankan dalam pengawasan, regulasi dan pra-syarat oleh aparat berwenang seharusnya terfokus pada soal cara.

Kerusuhan dan dampak lingkungan yang muncul dari proyek-proyek investasi, khususnya pertambangan ini jelas karena lemahnya penekanan pada sudut ini. Bayangkan saja, kerusuhan di desa Runtu misalnya, tidak lain karena lahan milik penduduk yang akan digunakan sebagai lahan perkebunan "direbut" dengan cara yang tidak etis dan lebih mengedepankan untuk yang sebesar-besarnya tanpa mau melihat pihak lain yang terlibat, dalam hal ini penduduk setempat. Lahan harus dijual "secara paksa" dengan harga murah, atau menggunakan cara "penipuan" yang sama sekali tidak mencerminkan niat baik.

Persoalan kita ini lebih penting lagi bagi para aparat yang sedang duduk di lembaga pemerintahan. Gembar-gembor pilkadal dengan kampanye mampu mendatangkan investor adalah kampanye basi. Tanpa investor, penduduk lebih bisa hidup dengan baik dan tenang. Tapi keberadaan investasi juga penting untuk menstimulus jalan perkembangan ekonomi masyarakat. Dari ruang ini, bisa dibaca sendiri bahwa ada titik tertentu yang harus diperhatikan. Kenyataan selama ini memberikan kesimpulan yang menggiurkan tapi ditertawakan atau dicemooh. Mendatangkan investor pada nyatanya hanya terkait dengan kesepakatan-kesepakatan terbatas di level kekuasaan. Kepentingan pribadi atau segelintir orang dengan cara memangsa rakyat yang pintar lewat media pembodohan; lapangan kerja, pembangunan ekonomi, keperluan terhadap modal, kemajuan masyarakat, dan lain-lain. Individu yang paling bodoh sekalipun akan bisa menilai ketika sumber kehidupannya yang primer itu rusak, bencana yang diakibatkan lingkungan yang hancur, ekosistem yang semraut dan atau hak-haknya dirampas dan dia tidak lagi mendapatkan kebebasan untuk kelangsungan hidup dengan cara yang sopan, beradab, menghormati dan menghargai kelangsungan hidup orang lain.

Kepada bapak-bapak pejabat di pemerintahan itulah kita bertanya, kemana Garuda kalian terbangkan? Sehingga pergi jauh untuk dilupakan. Mungkin persoalan Pancasila sebagai dasar negara adalah persoalan gampang. Seperti gampangnya Bapak Presiden memberikan komentar terhadap pengibaran bendera Filipina di Miangas akibat insiden pemukulan oleh Kapolsek setempat. Kalau anda menggunakan pikiran dan logika yang jernih tanpa dorongan kepentingan apa-apa, mungkin anda bertanya-tanya sendiri, apa hubungannya pemukulan Kapolsek dengan pengibaran bendera Negara lain? Bapak Presiden, SBY, mengatakan bahwa kejadian itu adalah karena emosi sesaat (lihat Kompas, 2 Juni 2005). Tapi lagi-lagi kita bertanya, apakah itu emosi sesaat atau emosi yang terpendam sejak lama kemudian dimunculkan sesaat? Hanya karena insiden pemukulan, tiba-tiba masyarakat di sana mengibarkan bendera Filipina. Sangat susah diterima akal kalau semata-mata emosi sesaat dalam bentuk reaksi atas insiden itu. Apakah lebih pantas pertanyaannya, Garuda sedang diterbangkan kemana untuk membawa Pancasila yang terlupa? Atau sengaja dilupakan kelompok elit kekuasaan untuk melancarkan kepentingan sesaat sehingga masyarakat luas pun ikut terlupa demi kepentingannya masing-masing. Mana kepentingan kita bersama?

Dalam pertemuan itu, Gus Dur menyitir lelucon lagi, "Ini pertemuan swasta. Hanya kumpul-kumpul pas Hari Pancasila… makanya jangan sampai salah eja, Pancasila menjadi Pancasial." Khas Gus Dur yang diberitakan media sebagai celetuk "sekenanya" tanpa ada satu media atau suatu tulisan berupa opini yang mencoba mengupas lelucon itu. Mungkin karena Pancasila hanyalah Pancasila, tak ada hubungannya dengan psikologi anak-anak negri yang terluka, dan persitiwa-peristiwa yang menyakitkan hati penduduk kecil. Dan mereka pun lebih senang mengungkapkan khas Gus Dur sekedar ungkapan "sekenanya" untuk bahan tertawaan semata. Dan tetap membiarkan Pancasila untuk tetap terlupa. Entah sampai kapan? Hanya kamu sendiri yang mampu mendengarkan kata nuranimu yang sebenarnya!

Original Post

Kartiniku putri sejati

April 21st, 2005 by camkueh

Kartiniku menangis pilu
Menyaksikan gelombang dahsyat
Di balik tembok kokoh
Mayat-mayat bunda bergelimpangan
Dan di tanah-tanah lapang
Kartiniku
Tubuh bergetar hebat
hutan dan gunung yang marah
Bumi dan langit.. yang murka
Menyadarkan mimpi serakah

Kartiniku tergugah
Mendengarkan anak negri
Tak bisa sekolah
Karena kabut.. karena banjir
Dalam surat, ia tumpahkan air mata
Ke negri jauh tak terjangkau
Kartiniku mendekam sepi
Sepanjang hari

Kartiniku tergerak
Kartiniku berontak
Kartiniku menangis lagi
Lalu
Kartiniku mati..
Dipingit
Pagar-pagar raksasa
Racun tikus pesanannnya
Digunakan melenyapkan Munir
Sedang tikus-tikus licik
Semakin berjingkrak girang
Mengerogoti tiap sisi
Bangunan negri.. yang keropos
Kartiniku.. Sakit hati
Kartiniku dinyanyikan
Putri sejati

Cairo, 21 April 2005

Original Link